Sponsors Link

17 Penyakit Kelamin Wanita – Gejala dan Penyebabnya

Sponsors Link

Setiap wanita mendambakan tubuh yang sehat dan indah, tak terkecuali untuk daerah kewanitaan. Namun, tidak dapat disangkal bahwa terdapat berbagai penyebab yang mengancam kesehatan bagian bawah wanita, mulai dari kurangnya menjaga kebersihan, gizi yang tidak seimbang, infeksi menular seksual, genetik, bertambahnya usia dan lain-lain.

ads

Wanita lebih rentan mengalami penyakit bagian bawah wanita, baik yang menular maupun tidak. Anatomi seorang wanita membuatnya lebih rentan terhadap infeksi. Bagian bawah wanita ditutupi oleh selaput lendir tipis yang lembut sehingga lebih mudah membiarkan virus dan bakteri melewatinya. Bagian bawah wanita juga merupakan lingkungan yang hangat dan lembab sehingga mendorong pertumbuhan bakteri. Berikut merupakan 17 Penyakit Kelamin Wanita yang perlu anda ketahui. Penyakit kelamin dapat terjadi karena berbagai penyebab dan tanpa anda sadari gejalanya. Untuk itu perlu dilakukan pencegahan dan deteksi dini.

1. Hematocolpos

HematocolposHematocolpos atau disfungsi haid merupakan kondisi medis dimana vagina terisi oleh darah menstruasi. Kondisi ini sering disebabkan oleh terjadinya menstruasi pada seseorang yang mengalami imperforate hymen, yaitu kondisi saat hymen atau selaput dara tidak memiliki pembuka tengah yang normal, sebagai berikut keterangannya:

  • Penyebab lain adalah adanya transverse vaginal septum, yaitu sejenis kelainan utero-vaginal yang langka dimana bagian bawah wanita tetutup oleh jaringan yang terbentuk ketika perkembangan embryo.
  • Tertutupnya bagian bagian bawah wanita akan menyebabkan darah menstruasi menggenang di bagian atas vagina. Hal tersebut menimbulkan rasa sakit di bagian perut.
  • Pengobatan untuk kondisi ini adalah dengan bedah hymenotomy atau bedah lainnya untuk menghilangkan jaringan yang menutup aliran menstruasi.

2. Leukorea

LeukoreaLeukorea (Leukhorrea) atau vaginal discharge atau keputihan merupakan gejala keluarnya cairan dari bagian bawah wanita yang bukan berupa darah. Leukorea diidentifikasi dengan terjadinya keputihan yang kental dan berwarna putih hingga kekuningan.

  • Terdapat beberapa penyebab Leukhorrea, namun yang paling lumrah adalah ketidakseimbangan hormon estrogen. Jumlah keputihan yang muncul dapat meningkat bergantung pada seberapa besar infeksi vagina atau akibat penyakit menular seksual.
  • Penyakit ini dapat muncul lalu menghilang dari waktu ke waktu dan dapat berlangsung dalam kurun waktu bertahun-tahun dimana keputihan menjadi semakin menguning dan berbau tidak sedap.
  • Keputihan bukanlah hal yang tidak normal. Perubahan pada keputihan dapat disebabkan oleh infeksi, maligna, dan perubahan hormon. Keputihan juga terkadang terjadi pada gadis yang hendak mengalami menstruasi pertamanya, yakni sebagai tanda pubertas.

3. Vaginitis Atrofi

Vaginitis atrofi

Vaginitis atrofi, atrofi vaginal, atrofi vulvovaginal, atrofi urogenital atau kekeringan bagian bawah wanita merupakan inflamasi vagina akibat penipisan dan penyusutan jaringan, bersamaan dengan penuruna lubrikasi atau pelumasan. Penyebabnya adalah berkurangnya hormon estrogen, dan lainnya sebagai berikut:

  • Kondisi ini terjadi pada wanita menjelang menopause, ditandai dengan keringnya vagina dan ketidaknyamanan ketika berhubungan seks.
  • Namun demikian, vaginitis atrofi dapat pula terjadi pada ibu menyusui akibat penurunan hormon estrogen dan pada penggunaan obat penurunan hormon estrogen untuk penderita endometriosis.
  • Setelah menopause, setidaknya 50% wanita mengalami gejala yang mengarah pada kekeringan vagina. Gejala yang sering terjadi meliputi nyeri saat berhubungan seks, kemerahan pada bagian vulva dan cagina, keputihan, gatal, dan permasalahan pada saluran kencing.
  • Pengobatan untuk kondisi ini adalah dengan terapi pengganti hormon. Apabila gejala yang terjadi hanya keringnya vagina, maka dapat menggunakan gel pelumas.

4. Vaginosis Bakteri

Sponsors Link

Vaginosis bakteri

Vaginosis bakteri merupakan infeksi ringan pada bagian bawah wanita. Secara normal, bagian bawah wanita memiliki bakteri baik dan buruk. Bakteri baik membantu mengendalikan pertumbuhan bakteri buruk. Pada wanita yang mengalami vaginosis bakteri, terjadi ketidakseimbangan antara bakteri baik dan buruk. Jumlah bakteri baik tidak sebanyak bakteri buruk. Berikut keterangan dari penyakit ini yang wajib kalian ketahui:

  • Vaginosis bakteri dapat sembuh dengan sendiri dalam beberapa hari. Tetapi, kondisi tersebut juga dapat mengarah pada permasalahan yang lebih serius.
  • Tidak diketahui secara persis penyebab ketidakseimbangan antara bakteri baik dan buruk pada bagian bawah wanita.
  • Namun demikian, risiko mengalami vaginosis bakteri dapat meningkat akibat hubungan seks dengan lebih dari satu partner dan penggunaan pengharum bagian bawah wanita.
  • Risiko dapat dikurangi dengan tidak berganti-ganti pasangan, tidak memberikan pengharum pada bagian bawah wanita dan tidak merokok. (baca juga: Jenis-Jenis Penyakit Kulit)

5. Infeksi Jamur

Infeksi jamurInfeksi jamur pada bagian bawah wanita atau candidal vulvovaginitis biasanya disebabkan oleh jamur Candida albicans dan terkadang jamur Candida sp. lainnya. Gejala umum infeksi jamur adalah nyeri pada bagian bawah wanita, keputihan yang tidak normal, gatal dan kemerahan.

Gejala dapat memburuk ketika menjelang haid. Penyebab infeksi adalah pertumbuhan berlebih jamur Candida yang biasanya terdapat pada bagian bawah wanita dalam jumlah kecil. Meskipun tidak berkaitan dengan infeksi menular seksual, kondisi ini lebih sering terjadi pada seseorang yang aktif berhubungan seks, berikut faktor penyebabnya infeksi jamur:

  • Faktor pemicu untuk infeksi jamur dapat berasal dari penggunaan antibiotik, kehamilan, diabetes, dan HIV/AIDS.
  • Konsumsi gula (glukosa, fruktosa, sukrosa) yang berlebihan juga berperan pada kondisi ini. Meski belum terbukti secara pasti, menggunakan pakaian dalam katun dan tidak ketat dapat dilakukan sebagai salah satu pencegahan.Dianjurkan pula untuk menghindari produk pengharum bagian bawah wanita. Pengobatan dilakukan dengan memberikan obat anti jamur, baik krim seperti clotrimazole, maupun obat untuk diminum, yakni fluconazole.

6. Dispareunia

Dispareunia terjadi dimana penderita mengalami nyeri pada saat berhubungan seks karena penyebab pikologis dan medis. Dispareunia dapat menyerang pria, namun lebih sering terjadi pada wanita. Wanita yang mengidap dispareunia mengalami nyeri pada bagian bawah wanita, klitoris, dan labia. Nyeri dapat terjadi pada bagian permukaan bagian bawah wanita atau lebih dalam ke bagian pelvis karena tekanan yang dalam pada serviks.

Penyebab dispareunia dintaranya ialah infeksi, kanker, kista, luka trauma, sebab hormonal, iritasi saluran kencing, dan lain-lain. Dispareunia paling sering terjadi pada sesorang yang belum berpengalaman dalam berhubungan seksual, khususnya bila pasangan juga belum berpengalaman. Dispareunia juga dapat terjadi pada wanita yang hendak memasuki dan telah melalui menopause. Diagnosa untuk kondisi ini memerlukan uji fisik dan pengalaman seksual dari penderita. Perlu diketahui apakah gejala muncul pada saat penetrasi atau ketika terjadi tekanan, yang biasanya terasa lebih dalam di bagian pelvis.

7. Vaginismus

ads

Ketika seorang wanita menderita vaginismus, otot bagian bawah wanita akan menjepit atau kejang apabila terdapat sesuatu yang memasukinya. Yang dirasakan dapat berupa ketidaknyamanan ringan hingga nyeri. Hubungan seks yang menyakitkan merupakan tanda awal seorang wanita mengalami vaginismus. Nyeri hanya terjadi pada saat penetrasi. Wanita menggambarkan rasa nyeri yang dialami seperti terjadi perobekan.Tidak diketahui secara pasti penyebab dari vaginismus.

Kondisi ini biasanya dihubungkan dengan kecemasan dan ketakutan untuk berhubungan seks. Namun, tidak jelas apakah vaginismus atu kecemasan yang dialami lebih dahulu. Untuk mendiagnosa kondisi ini, perlu diuji apakah gejala terjadi pada semua keadaan atau hanya dengan pasangan tertentu dan tidak terjadi ketika dengan pasangan lain, atau hanya terjadi pada kontak seksual, namun tidak pada tampon selama uji medis. Penangana untuk vaginismus dapat dialkukan dengan melakukan latihan fisik secara pribadi di rumah untuk mengendalikan dan merelaksasi otot sekitar bagian bawah wanita.

8. Fistula Rektovaginal

Fistula rektovaginalFistula rektovaginal adalah hubungan yang tidak normal antara bagian bawah usus besar, yaitu rektum, dengan bagian bawah wanita. Isi dari usus dapat bocor melalui fistula dan menyebabkan gas dan kotoran melewati bagian bawah wanita. Fistula rektovaginal dapat terjadi akibat luka selama persalinan, peradangan usus, pengobatan kanker di area pelvis dan komplikasi akibat bedah di area pelvis. Berikut gejala-gejala yang disebabkan dari penyakit ini:

  • Kondisi ini menyebabkan penderita terbebani secara emosional, tidak nyaman secara fisis, dan berujung pada penurunan kepercayaan diri dan keharmonisan dalam hubungan.
  • Meski terdengar memalukan, namun kondisi ini perlu dikonsultasikan pada dokter.
  • Gejala dapat berupa keluarnya gas dan kotoran melaui bagian bawah wanita, keputihan berbau busuk, infeksi saluran kencing, iritasi vulva, bagian bawah wanita atau bagian antara bagian bawah wanita dan anus, serta nyeri saat berhubungan seks.

9. Fistula Ureterovaginal

Fistula ureterovaginal adalah adanya jalan yang tidak normal antara ureter dan bagian bawah wanita. Kondisi ini dapat dihasilkan oleh trauma, infeksi, bedah pelvis, terapi radiasi, malignansi, atau peradangan usus. Fistula dapat terjadi karena luka saat persalinan yang lama dan berlarut-larut. Kesulitan saat melahirkan dapat menimbulkan tekanan antarsel pada jaringan yang tertekan antara kepala bayi dan jaringan yang lebih lembut pada bagian bawah wanita, ureter, dan kandung kemih.

Kondisi ini dapat diidentifikasi dengan bantuan citra radiografi. Pengobatan untuk fistula ureterovaginal adalah bedah ginekologis. Pengobatan terkini menggunakan penempatan stent, yaitu tabung logam atau plastik yang dimasukkan ke organ untuk membuka jalan. Pengobatan dengan cara tersebut biasanya berhasil. Namun, apabila fistula tidak dapat diperbaiki, ahli bedah akan membuat pengalihan permanen untuk urin atau urostomi.

10. Sistokel

SistokelSistokel merupakan kondisi medis yang terjadi ketika dinding yang kokoh antara kandung kemih dan bagian bawah wanita robek akibat persalinan, menyebabkan kandung kemih masuk ke bagian bawah wanita. Kandung kemih, yang terletak pada pelvis di antara tulang pelvis, merupkakan organ yang berbentuk balon, transparan, berotot dan mengembang saat terisi urine.

Saat urinasi, kandung kemih mengalami pengosongan melalui uretra, yang terletak di bawah kandung kemih. Sistokel terjadi saat otot dan jaringan pendukung antara kandung kemih dan bagian bawah wanita melemah dan meregang. Kondisi ini menyebabkan ketidaknyamanan ketika buang air kecil, berikut beberapa gejalannya:

  • Gejala sistokel meliputi pembengkakan bagian bawah wanita, perasaan seperti sesuatu memasuki bagian bawah wanita, sensai pelvis yang berat dan penuh, kesulitan mengeluarkan air kencing, kencing yang tidak tuntas, sering kencing.
  • Apabila sistokel tidak mengganggu, maka pengobatan yang dilakukan adalah dengan tidak melakukan pekerjaan berat seperti menganngkat beban. Namun, jika sistokel telah menggangu, maka dapat dilakukan latihan otot pelvis atau bedah.

11. Pendarahan bagian bawah wanita

Pendarahan bagian bawah wanita adalah pendarahan apa saja melalui bagian bawah wanita meliputi pendarahan dari dinding bagian bawah wanita sendiri dan dari organ lain pada sistem reproduksi wanita, yang paling sering adalah rahim. Umumnya, hal ini merupakan respon fisiologi selama siklus menstruasi non-konsepsional, atau disebabkan masalah hormon atau organ lain, seperti pendarahan uterin abnormal. Perdarahan bagian bawah wanita bisa terjadi padaberbagai usia, namun perlu diinvestigasi bila ditemui pada anak-anak atau pada wanita pascamenopause.

Perdarahan bagian bawah wanita selama kehamilan dapat mengindikasikan kemungkinan adanya komplikasi kehamilan yang perlu ditangani secara medis. Penyebab perdarahan umumnya dapat dilihat berdasarkan riwayat pendarahan, pemeriksaan fisik, dan tes medis lain yang sesuai. Pemeriksaan fisik untuk mengevaluasi perdarahan bagian bawah wanita biasanya mencakup visualisasi serviks dengan spekulum, pemeriksaan bimanual, dan pemeriksaan rektovagina. Perawatan akan diarahkan pada penyebabnya. Jika masalah perdarahan hormonal selama masa reproduksi telah mengganggu wanita, maka dapat ditangani dengan menggunakan pil kontrasepsi kombinasi.

12. Sindrom Kongesti Pinggul

Sindrom kongesti pinggul, Pelvic congestion syndrome, atau sindrom kemacetan panggul (juga dikenal sebagai inkompetensi pembuluh darah panggul) merupakan kondisi medis kronis pada wanita yang disebabkan oleh varises di perut bagian bawah. Wanita dengan kondisi ini mengalami nyeri konstan yang dapat memudar, tapi terkadang-dapat menjadi lebih akut. Rasa sakit lebih parah pada akhir hari dan setelah lama berdiri.

Penderita akan merasa lebih baik saat mereka berbaring. Rasa sakit akan memburuk selama atau setelah hubungan seksual, dan bisa menjadi lebih buruk sesaat sebelum masa menstruasi. Terdapat beberapa pilihan pengobatan dini meliputi pengobatan nyeri, terapi alternatif seperti akupunktur, dan penekanan fungsi ovarium. Bedah dapat dilakukan dengan menggunakan teknik transkateter noninvasif untuk menumbuhkan varises.

13. Kista Bartholin

Sponsors Link

Kista BartholinKista Bartholin, atau juga dikenal sebagai Bartholinitis, terjadi ketika kelenjar Bartholin terhambat dan kelenjarnya mengalami peradangan. Ukuran berkisar dari sebesar kacang hingga sebesar telur. Kista Bartholin hanya terbentuk di setiap sisi bagian bawah pembukaan bagian bawah wanita. Pembengkakan yang bernanah dapat terbentuk jika kista mengalami infeksi. Dalam hal ini sering muncul kemerahan dan menyakitkan saat disentuh, berikut yang harus kalian ketahui dari kista:

  • Kista Bartholin bukanlah infeksi, meskipun bisa disebabkan oleh infeksi, pembengkakan, atau penyumbatan fisis (lendir atau hambatan lainnya) ke saluran Bartholin (tabung yang mengarah dari kelenjar ke vulva).
  • Jika infeksi terjadi, hasilnya adalah pembengkakan bernanah atau abses Bartholin. Kista tidak menular secara seksual. Tidak ada alasan yang diketahui untuk perkembangan ini.
  • Infeksi jarang terjadi pada kondisi ini. Dengan adanya abses, infeksi bakteri menjadi penyebabnya, tapi biasanya bukan penyakit menular seksual.
  • Kebanyakan kista Bartholin tidak menumbulkan gejala, meski beberapa muncul ketika berjalan, duduk, atau berhubungan seksual.

14. Kraurosis Vulva

Kraurosis VulvaKraurosis vulva adalah gangguan peradangan yang menyebabkan kelelahan genital, dan dikenal luas sebagai lichen sclerosis atau Breisky disease. Kondisi ini biasanya ditandai dengan pembengkakan dan kemudian atrofi daerah vulva wanita pasca menopause – dari anus sampai klitoris dan apa saja di antaranya. Kelainan ini juga menimpa alat kelamin beberapa pria lanjut usia dan bahkan wanita muda yang tubuhnya dapat terpengaruh oleh kontrasepsi oral, berikut ciri-ciri dari penyakit kraurosis vulva:

  • Bagi banyak wanita, kondisi ini bisa menakibatkan penyusutan lubang bagian bawah wanita dan kulit gatal di seluruh alat kelamin.
  • Meski gejala yang paling umum dari kraurosis vulva adalah gatal dan kulit yang perih, keputihan yang berdarah juga bisa terjadi.
  • Kondisi ini tidak menular, namun jika terjadi di alat kelamin, maka pertolongan medis yang segera sangat dianjurkan. Kraurosis vulva biasanya diobati dengan krim cortisone melalui resep obat. Obat ini menghentikan gatal untuk mendukung penyembuhan jangka pendek.

15. Radang Panggul

Radang panggul atau pelvic inflammatory adalah infeksi pada bagian atas sistem reproduksi wanita, yakni rahim, saluran tuba, ovarium, dan bagian dalam panggul. Seringkali tidak muncul gejala pada kondisi ini. Tanda dan gejala saat terjadi radang meliputi sakit perut bagian bawah, keputihan, demam, perih saat buang air kecil, sakit ketika berhubungan seks, atau haid tidak teratur. Radang panggul yang tidak diobati dapat menyebabkan komplikasi jangka panjang termasuk ketidaksuburan, kehamilan ektopik, nyeri panggul kronis, dan kanker.

Kondisi ini biasanya disebabkan oleh infeksi menular seksual, seperti klamidia atau gonore, dan diobati dengan antibiotik. Gejala lain yang mungkin terjadi adalah muntah dan pingsan. Pengobatan bergantung pada agen infeksius dan umumnya melibatkan penggunaan terapi antibiotik. Jika tidak ada perbaikan dalam dua sampai tiga hari, pasien biasanya disarankan untuk mencari perawatan medis lebih lanjut. Rawat inap diperlukan jika ada komplikasi lain. Mengobati pasangan seksual untuk kemungkinan infeski menular seksual dapat membantu pengobatan dan pencegahan.

16. Vulvodinia

Vulvodinia mengacu pada ketidaknyamanan kronis vulva, bagian tubuh wanita yang melindungi alat kelamin, termasuk alat kelamin wanita eksternal, yakni mons pubis, labia majora dan minora, klitoris, dan perineum. Nyeri vulval dapat terjadi karena beberapa alasan, namun vulvodinia terkait dengan hipersensitivitas ujung saraf kulit. Sekitar 16 persen wanita diperkirakan pernah mengalami rasa sakit atau menyengat di daerah vulva pada suatu waktu dalam kehidupan mereka. Vulvodynia menyebabkan rasa perih, gatal, mengesalkan, atau terasa kasar pada jaringan vulva, yang mungkin atau tidak tampak meradang. Rasa sakit dapat menyerang bagian tertentu, atau mungkin pula dirasakan di area yang lebih luas, termasuk klitoris, perineum, mons pubis, dan paha bagian dalam. Kondisi ini juga dapat mempengaruhi daerah sekitar uretra dan bagian atas kaki dan paha bagian dalam.

Gejala dapat memburuk selama atau setelah hubungan seksual, ketika berjalan, duduk, atau berolahraga. Gejala dapat pula terjadi saat memasukkan tampon, atau saat dikenai tekanan berkepanjangan, misalnya saat menunggang kuda. Biasanya, Vulvodinia bertahan paling lama 3 bulan. Seringkali dimulai secara tiba-tiba, dan dapat berlangsung selama berbulan-bulan atau bertahun-tahun. Kondisi ini tidak mengancam jiwa, tapi rasa sakitnya bisa mengganggu sesorang melakukan aktivitas normal. Hal ini juga bisa menyebabkan kekesalan dan depresi.

17. Papilomatosis Vestibular

Papilomatosis VestibularPapilomatosis vestibular adalah tumor jinak yang terjadi di ruang vestibulum vulva. Pada pemeriksaan morfologi, tumor memiliki konfigurasi papiler, yaitu tumor dari epitel skuamosa vulva (bagian bagian bawah wanita luar). Tumor biasanya berjumlah banyak, namun dapat juga berupa tumor tunggal, berikut beberapa gejala yang ditimbulkan dari penyakit papilomatoris vestibular:

  • Mereka umumnya kecil, tumbuh lambat, dan berwarna merah muda. Kondisi ini biasanya terlihat pada wanita dewasa.
  • Faktor risiko dan penyebab papilomatosis vestibular tidak diketahui. Demikian juga tidak ada kaitan dengan kondisi infeksi human papilloma virus (HPV) dan tidak menular secara seksual.
  • Pada sebagian besar kasus, tidak ada perawatan yang diperlukan, kecuali jika kondisi tersebut telah menyebabkan gejala yang mengkhawatirkan pada individu. Bedah pemotongan sederhana pada tumor dianggap kurang memberikan hasil.

Berikut telah dijelaskan 17 Penyakit Kelamin Wanita yang perlu anda ketahui gejala, penyebab dan perawatannya. Penyebab terjadinya penyalit kelamin pada wanita dapat berasal dari berbagai kondisi, baik fisis maupun psikologis. Gejala mungkin tidak dirasakan oleh penderita dan lambat laun dapat menjadi semakin buruk tanpa disadari. Untuk itu, perlu dilakukan pencegahan sedari awal.

Menjaga kebersihan alat kelamin merupakan hal yang paling utama untuk mencegah infeksi. Mandi setiap hari akan membantu menyingkirkan bakteri yang bisa membangun dan menyebabkan bau di bagian bawah wanita, seperti halnya bagian lain pada tubuh. Pastikan mandi setelah berolahraga untuk menghilangkan keringat. Jauhi sabun yang berbahan tidak alami dan mengandung pengharum buatan yang menyebabkan iritasi. Ketika membasuh alat kelamin, pastikan air mengalir dari arah depan ke belakang, jangan sebaliknya. Gunakan pakaian dalam yang berbahan katun dan tidak ketat sehingga organ intim lebih leluasa. Perbaiki pola makan dan gizi dengan mengurangi gula.

Bau tidak sedap yang muncul dari alat kelamin bisa menjadi gejala awal adanya infeksi jamur dan bakteri yang dapat mengarah pada penyakit yang lebih serius. Apabila muncul gejala-gejala lain, segera konsultasikan pada ahli medis untuk dilakukan perawatan.

Sponsors Link
, , ,




Oleh :